Tanpa Mengenalnya, Bagaimana Mungkin Kita Mencintainya?
Tanpa Mengenalnya, Bagaimana Mungkin Kita Mencintainya?

        Sejarah perjalanan Nabi Muhammad merupakan bagian tak terpisahkan dari agama Islam. Islam dan Sirah Nabawiyah saling melengkapi satu sama lain. Barang siapa mempelajari Sirah Nabawiyah, berarti ia sedang mempelajari agama Islam.

Allah berfirman,

 

﴿ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحَىٰ ﴾

“Dia (Muhammad) tidaklah berbicara dari hawa nafsunya, melainkan ucapannya itu (Al-Qur’an) adalah sesuatu yang diwahyukan kepadanya.”

(QS An-Najm: 3-4)

           

        Seseorang yang mempelajari perjalanan hidup Nabi Muhammad akan mengetahui kapan wahyu diturunkan serta bagaimana cara mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dalam Surah Ath-Thalaq, bagaimana cara menerapkan talak dengan benar? Begitu pula dalam Surah Al-Jumu’ah, kapan waktu salat Jumat ditegakkan dan bagaimana sikap kita ketika azan dikumandangkan? Semua ini dapat kita temukan dalam Sirah Nabawiyah.

            Allah juga berfirman,

 

﴿ وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad) adz-Dzikr (Al-Qur’an) supaya engkau menjelaskannya kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka mau berfikir.”

(QS An-Nahl: 44)

 

            Pada ayat di atas disebutkan bahwa Nabi diperintahkan oleh Allah untuk menerangkan apa itu Al-Qur’an. Jika kita melihat definisi al-bayaan (penjelasan), maknanya adalah menjelaskan sesuatu dengan perkataan, perbuatan, serta justifikasi atas perbuatan-perbuatan tersebut.

Sirah Nabi Muhammad mencakup semua hal itu. Banyak penjelasan Al-Qur’an yang disampaikan melalui ucapan maupun perbuatan beliau . Oleh karena itu, mempelajari Sirah Nabawiyah memiliki manfaat yang sangat besar. Berikut di antaranya:

 

1. Menjalankan Perintah Allah

Allah telah memerintahkan kita untuk menuliskan sejarah perjalanan Nabi-Nya dan sunnah-sunnahnya. Mengapa harus ditulis? Jawabannya adalah karena dengan mencatat sejarah perjalanan Nabi , kita dapat mengetahuinya dan meneladani beliau. Dengan demikian, hari-hari yang kita jalani akan dipenuhi dengan sunnah-sunnah Rasulullah .

Allah berfirman,

 

﴿ لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam suri tauladan yang sangat baik untuk kalian …”

(QS Al-Ahzab: 21)

 

            Dari ayat ini, kita diperintahkan untuk meneladani Nabi . Salah satu caranya adalah dengan membaca dan menuliskan perjalanan hidup beliau, sehingga kita mengetahui bagaimana beliau tidur, makan, berjalan, berperang, mengajar, berhijrah, berdagang, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. Oleh karena itu, perlu ada yang mendokumentasikan perjalanan hidup beliau.

 

“Menulis, membaca dan mempelajari sejarah Nabi Muhammad merupakan bagian dari agama kita, karena di dalamnya terdapat banyak sekali praktik beliau dalam beragama.”


 

 Jika kisah perjalanan hidup beliau tidak dituliskan, maka kisah yang penuh dengan pelajaran ini akan hilang. Akibatnya, kita dan anak cucu kita tidak akan dapat meneladani Rasulullah dalam beribadah maupun bermuamalah dengan sesama manusia.

 

2. Mengetahui Perjalanan Hidup Manusia Terhebat Sepanjang Masa

Mempelajari Sirah Nabi Muhammad berarti mempelajari perjalanan hidup manusia termulia sekaligus pemimpin seluruh umat manusia sepanjang masa. Ya, beliau adalah pemimpin manusia. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Nabi bersabda,

 

أَنَا ‌سَيِّدُ ‌وَلَدِ ‌آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Aku adalah pemimpin anak Adam (manusia) kelak pada hari Kiamat.”

(HR Muslim no. 2278)

 

         Ketika kita mengidolakan seorang tokoh terkenal di dunia dan mengikuti akun media sosialnya, kira-kira, apa manfaat yang akan kita dapatkan darinya? Apakah kita akan mendapatkan uang, atau justru kita yang memberinya uang? Jika kita mengikuti gaya hidup tokoh tersebut, kira-kira, ke mana ia akan membawa kehidupan kita, ke surga atau ke neraka? Cerdaslah dalam memilih panutan hidup!

Berbeda halnya dengan Rasulullah . Ketika kita menjadi pengikut beliau, kita akan mendapatkan banyak manfaat, tidak hanya dalam urusan dunia, tetapi juga akhirat.

 

3. Menunaikan Kewajiban Mengenal Rasulullah

Mengenal Nabi Muhammad merupakan kewajiban kedua bagi seorang hamba setelah mengenal Allah . Mengapa hal ini termasuk dalam perkara wajib? Karena di alam kubur nanti, kita akan ditanya oleh malaikat dengan tiga pertanyaan.

  1. Siapa Tuhanmu?
  2. Apa agamamu?
  3. Siapa Nabimu?

Jika kita tidak mempelajari sirah beliau, bagaimana mungkin kita akan mengenal Rasulullah ? Bagaimana mungkin kita bisa menjawab pertanyaan tersebut?

Dalam hal ini, setidaknya ada lima aspek yang perlu kita ketahui:

a. Mengenal nasab Nabi Muhammad , bahwa beliau adalah manusia termulia dari segi keturunan.
b. Mengenal tempat dan tanggal lahir, serta tempat hijrah beliau.
c. Mengenal masa kenabian beliau selama 23 tahun.
d. Memahami peristiwa ketika beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul.
e. Memahami tujuan diutusnya beliau, yaitu untuk mengesakan Allah serta menegakkan syariat-Nya, yang mencakup pengamalan perintah dan meninggalkan larangan. Selain itu, beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kesyirikan dan kebodohan menuju cahaya ilmu dan keimanan, sehingga mereka mendapatkan ampunan dan keridaan-Nya serta selamat dari siksa dan murka-Nya.

 

“Mengenal Nabi Muhammad bukan sekadar memuji beliau dengan bershalawat, tetapi juga mempraktikkan ajaran beliau, salah satunya adalah mendakwahkan tauhid. Sebab, beliau diutus untuk mengajak umat kepada tauhid.”

  


Ketika kita mengenal Rasulullah , kita akan:

a. Mencintai, menghormati, dan menghargai beliau. Kita akan mengasihi manusia yang paling dikasihi oleh Allah, yaitu Nabi Muhammad . Selain itu, kita mencintai beliau berdasarkan ilmu, bukan hanya sekadar ikut-ikutan.

 

“Cinta yang didasari ilmu

adalah cinta yang sejati dan diterima.”

 

 

Janganlah menjadi orang yang mencintai Nabi hanya karena ikut-ikutan, karena cinta semacam itu akan mudah goyah ketika menghadapi tantangan dan rintangan. Jadilah seorang Muslim yang mencintai beliau dengan ilmu, sehingga cinta itu benar-benar tertanam dalam jiwa dan tidak akan pernah pudar, meskipun nyawa menjadi taruhannya.

 

b. Menjadikan Nabi Muhammad sebagai suri teladan, karena kita diperintahkan untuk mencontoh beliau dalam segala aspek kehidupan.[1]

  

 

Sumber tulisan diambil dari kajian, “Sirah Nabawi – Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.”


 



[1] Dalilnya sudah disebutkan di atas, yaitu QS Al-Ahzab: 21.