Pentingnya Kalimat Laa Ilaaha Illallaah
Pentingnya Kalimat Laa Ilaaha Illallaah

Ada seorang Nabi yang Allah katakan dalam Al-Qur’an sebagai ummah, yaitu Ibrahim ‘alaihis salam. Dikisahkan bahwa beliau pernah menghancurkan patung-patung berhala yang disembah oleh kaumnya. Ketika kaumnya melihat patung-patung tersebut bergelimpangan hancur, mereka pun bertanya dengan penuh emosi,

 

مَنْ فَعَلَ هٰذَا بِاٰلِهَتِنَآ اِنَّهُ لَمِنَ الظّالِمِيْنَ

“Siapa yang berani-beraninya melakukan ini kepada tuhan-tuhan kami?! Sungguh, dia termasuk orang-orang yang zalim!” 

(QS Al-Anbiya: 59)

 

Maka, ada salah satu di antara mereka yang menjawab, “Aku tahu, ada seorang pemuda yang namanya Ibrahim. Dialah yang melakukan ini semua.”

Mereka pun meminta agar mendatangkan Ibrahim ‘alaihis salam untuk memberikan pelajaran kepadanya. Setelah beliau menghadap kaumnya, mereka pun bertanya,

 

ءَاَنْتَ فَعَلْتَ هٰذَا بِاٰلِهَتِنَا يٰٓاِبْرٰهِيْمُۗ

“Apakah benar engkau yang melakukan ini semua terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?” 

(QS Al-Anbiya: 62).

 

Beliau pun menjawab,

 

بَلْ فَعَلَه كَبِيْرُهُمْ هٰذَا فَسْـَٔلُوْهُمْ اِنْ كَانُوْا يَنْطِقُوْنَ

“Sebenarnya patung besar inilah yang melakukannya. Coba kalian tanyakan kepada mereka (patung-patung yang bergelimpangan itu) jika mereka memang bisa berbicara.” 

(QS Al-Anbiya: 63).

 

Mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim, akal mereka mulai sehat. Mereka pun tersadarkan dan menyadari bahwa patung-patung tersebut tidak bisa berbicara, tidak bisa memberikan manfaat maupun mudarat, namun mengapa terus-menerus disembah? Salah satu faktor yang menyebabkan mereka tidak mau berpisah dari berhala-berhala tersebut ialah fanatisme terhadap nenek moyang. Mereka tidak mau menerima kebenaran dan enggan dianggap durhaka terhadap warisan leluhur mereka. Pada akhirnya, mereka pun memutuskan untuk membakar Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sembari menyeru,

 

حَرِّقُوْهُ وَانْصُرُوْٓا اٰلِهَتَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ

“Kalian bakarlah dia dan tolonglah tuhan-tuhan kalian, jika kalian memang termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan untuk tuhan kalian!” (QS Al-Anbiya: 68)

 

Ketika itu, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam pun dibakar. Namun ternyata beliau tidaklah hangus. Beliau selamat dari kobaran api yang membakar tubuhnya, dan peristiwa itu disaksikan oleh banyak orang. Mereka merasakan hawa panas di sekitar pembakaran tersebut, sementara Nabi Ibrahim selamat atas izin Allah . Pertanyaannya, “Apakah mereka setelah melihat selamatnya Nabi Ibrahim dari pembakaran lantas beriman kepada Allah?” Jawabannya tidak. Mereka tetap menyembah berhala dan mengingkari Ibrahim ‘alaihis salam.

 

Tatkala seseorang terjerat dalam tradisi nenek moyang, maka dia akan kesulitan untuk lepas dari tradisi tersebut. Sulit bagi mereka untuk mentauhidkan Allah .

 


Lihatlah bagaimana dakwah Nabi kita, Muhammad ketika di Makkah. Apa yang beliau sampaikan kepada kaumnya? Jawabannya adalah tauhid. Beliau mengajak mereka dengan mengatakan,

 

يَا أَيَّهَا النَّاسُ، قُولوا لا إله إلَّا اللهُ تُفْلِحُوا

“Wahai manusia, ucapkanlah laa ilaaha illallaah, niscaya kalian akan beruntung!”

 

Saat itu, belum turun wahyu yang mewajibkan sholat, puasa, zakat, apalagi jihad. Pada saat itu, masih banyak wanita yang belum mengenakan hijab. Apakah beliau menuntut banyak hal dari mereka? Jawabannya tidak. Beliau hanya meminta agar mereka mengucapkan kalimat tauhid.

Perhatikan bagaimana paman beliau, Abu Thalib. Sosok Quraisy yang sangat paham dengan sifat Nabi Muhammad dan selalu melindungi keponakannya dalam menyampaikan dakwahnya. Namun, dia enggan untuk mengucapkan kalimat laa ilaaha illallaah. Mengapa bisa demikian? Karena dia paham dengan konsekuensi dari kalimat tersebut.

Ketika dia sedang jatuh sakit dan terbaring di atas ranjang rumahnya, Rasulullah datang menjenguknya. Namun, ternyata di sana sudah ada Abu Jahal dan kawannya, Abdullah bin Abi Umayyah, yang sedang mendampingi Abu Thalib. Dua orang ini sangat takut jika Abu Thalib mati dalam keadaan muslim.

Tak butuh waktu lama, Nabi langsung mengajak pamannya untuk mengucapkan kalimat tauhid,

 

ياعَمِّ، قُل لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِندَ اللهِ

“Wahai pamanku tersayang, ucapkanlah laa ilaaha illallaah, sebuah kalimat yang aku bisa menolongmu dengannya kelak di hadapan Allah.”

 

Mendengar ajakan Muhammad yang demikian, Abu Jahal beserta kawannya pun tak ingin lengah. Mereka berdua langsung meragukan hati Abu Thalib dengan mengatakan,

 

أَتَرغَبُ عن مِلَّةِ عَبْدِ المطلب؟

“Apakah engkau sudah mulai benci dengan agama (nenek moyangmu) Abdul Muthallib?”

 

Lihatlah bagaimana mereka merayu Abu Thalib. Mereka tidak mengatakan bahwa ajaran Nabi Muhammad salah, tetapi mereka menanyakan tentang kecintaannya terhadap nenek moyang. Apakah ia masih setia atau sudah membencinya? Mereka sangat “pandai” dalam memilih kata, karena mereka paham, jika seandainya mengatakan bahwa ajaran Muhammad itu salah, pasti Abu Thalib akan marah besar dan enggan untuk menerima ajakan Abu Jahal. Oleh karenanya, dia diingatkan dengan perjuangan bapaknya yang terdahulu. Pada akhirnya, Abu Thalib pun meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah .

Demikianlah …

 

Fanatisme terhadap ajaran nenek moyang, bisa menyebabkan seseorang rela untuk meninggalkan laa ilaaha illallaah. Padahal kita semua tahu bahwa kunci surga yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha illallaah.


 

Namun, mengapa masih banyak orang yang meninggalkannya? Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda,

 

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلامِهِ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ دخلَ الجنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah laa ilaaha illallaah, niscaya dia masuk surga.”

 

 

Sumber tulisan dari kajian, “Kekuatan Tauhid – Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.”